pantang bagiku untuk menyerah lalu pasrah 

pantang bagiku untuk menyerah lalu pasrah

Di semestaku yang sekarang, aku telah banyak melupakan. Berjalan angkuh bak raja yang tak mengenal siapa yang menciptakan. Aku telah melupakanmu. 


seolah kau sudah lebih dulu mati sebelum sempat kehilangan nyawa. bayanganmu sendiri, satu-satunya hal yang tak meninggalkanmu pergi. 

duduk termenung mendekap lutut. Kau kehilangan kendali atas dirimu sendiri. 

Aku tahu kamu di mana. Kamu sembunyi di dalam pejamku. Di mataku, tempat segala ucap terlihat jelas. Dulu memang bukan sekarang, maafkan. Kadang-kadang aku masih berpikir butuh marahmu. Nyatanya.

Ada seseorang, memang. Tapi dia bukan kamu. Kadang-kadang kamu lupa. Otakmu hanya diimingi sikap sok kepahlawanan 

Padahal kau hanyalah Sampah-sampah

seseorang yang memeluk bayangannya sendiri. merasa jiwanya telah mati 

Mikul Dhuwur Mendhem Jero

MIKUL DHUWUR MENDHEM JERO”

(Dialog Mengharukan Antara Presiden Soekarno-Letjen. Soeharto)1

Di saat demonstrasi mahasiswa mewarnai suasana Jakarta, di Istana Merdeka saya mengadakan dialog dengan Bung Karno. Itu menyambung pembicaraan mengenai situasi dan mengenai PKI. Saya berkeyakinan bahwa pikiran Bung Karno mengenai jalan keluar kurang tepat. Saya terus berusaha supaya beliau mengerti dan menyadari perubahan yang telah terjadi. Sampai akhirnya rupanya beliau bertanya-tanya, mengapa saya tidak patuh kepadanya.

Sewaktu kami berdua, Bung karno bertanya dalam bahasa Jawa, di tengah-tengah suasana Jakarta, “Harto, Jane aku iki arep kok apakke?” (Harto, sebenarnya aku ini akan kamu apakan?) Aku ini pemimpinmu”

Saya memberikan jawaban dengan satu ungkapan yang khas berakar pada latar belakang kehidupan saya.

“Bapak Presiden,” jawab saya, “saya ini anak petani miskin. Tetapi ayah saya setiap kali mengingatkan saya untuk selalu menghormati orang tua. Saya selalu diingatkannya agar dapat mikul dhuwur mendhem jero (memikul setinggi-tingginya, memendam sedalam-dalamnya; menghormat) terhadap orang tua.”

Dengan jawaban itu saya bermaksud dan bertujuan seperti kudangan ayah saya kepada saya. Orang tua saya, sekalipun petani, orang kecil, orang yang tidak mendapat pendidikan formal, mempunyai kudangan terhadap anaknya, mempunyai cita-cita mengenai anaknya, yakni agar saya ini menjadi anak yang bisa mikul dhuwur mendhem jero pada orang tua. Saya pun mempunyai keyakinan, bahwa pegangan hidup seperti itu adalah benar, dan tepat sekali.

Mikul dhuwur, artinya kita harus menghurmati orang tua dan menjunjung tinggi nama baik orang tua.

Mendhem jero, artinya segala kekurangan orang tua itu tidak perlu ditonjol-tonjolkan. Apa lagi ditiru!. Kekurangan itu harus kita kunur sedalam-dalamnya, supaya tidak kelihatan.

Dalam pada itu, nama baik orang tua harus kita junjung setinggi-tingginya sehingga terpandang keharumannya.

“Bagus,” jawab Bung Karno.

“Bapak tetap saya hormati, seperti saya menghormati orang tua saya. Bagi saya, Bapak tidak hanya pemimpin bangsa, tetapi saya anggap orang tua saya. Saya ingin mikul dhuwur terhadap Bapak. Sayang, yang mau di-pikul dhuwur mendhem jero tidak mau,” kata saya.

Saya yakin, Bung Karno paham benar akan ungkapan yang saya kemukakan itu.

Sebentar Bung Karno diam, menarik muka serius seperti semula.

“Betul begitu, Harto?” tanyanya kemudian.

“Betul, Pak, Insya Allah. Soalnya bergantung pada Bapak.”

“Nah, kalau betul kasu masih menghormarti aku dan menghargai kepemimpinanku, kuperintahkan kau menghentikan demonstrasi-demonstrasi mahasiswa itu. Aksi-aksi mereka keterlaluan. Tidak sopan! Liar! Mereka sudha tidak sopan dan tidak hormat kepada orang tua. Mereka tidak bisa dibiarkan, Harto. Kau kuminta mengambil tindakan terhadap mereka.”

“Maaf, Pak. Saya pikir, masalah ini berkenaan dengan pembenahan negara kita secara keseluruhan. Yang saya maksud, penyelesaian politik mengenai Gestapu/PKI seperti yang Bapak janjikan. Kalau sekarang Bapak Presiden mengumumkan secara resmi bahwa PKI dibubarkan dan dilarang, saya percaya mahasiswa itu akan menghentikan aksi-aksinya. Karena saya juga dituntut oleh mereka.”

“Penyelesaian politik Gestapu, Gestok, PKI lagi yang kau sebut, Harto. Kamu tadi mengatakan, tetap menghormati kepemimpinanku.”

“Tak pernah goyah, Pak”.

“Kalau begitu, laksanakan perintahku,” kata Bung Karno.

Saya tidak menjawab. Bung Karno juga diam.

Kemudian berulang kali saya renungkan adegan ini.

Jane aku iki arep kok apakke?

Saya artikan itu, beliau belum saja bisa menangkap sikap saya. Kata-kata saya yang terus menerus saya sampaikan kepada beliau, yang selalu berbeda dengan pendiriannya, belum bisa saja beliau tangkap. Atau bisa beliau tangkap, tetapi belum beliau yakini benar-benar.

Beliau mempunyai satu pendirian, saya mempunyai pendirian lain. Tetapi saya tidak menantang begitu saja. Namun juga tidak patuh begitu saja. Saya sebagai bawahan sebenarnya harus taat. Apa yang diperintahkannya seharusnya saya patuhi. Tetapi saya sebagai pejuang tidak mungkin patuh begitu saja.

Ya, saya jawab pertanyaan Bung Karno itu, “Saya akan mikul dhuwur mendhem jero.”

DIlihat dari segi agama maupun kebatinan, pegangan “mikul dhuwur mendhem jero” itu merupakan realisasi daripada iman, daripada percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Apa ujud iman yang digambarkan di sini?. Mengakui kenyataan bahwa orang tua merupakan perantara daripada lahirnya manusia. Tuhan menciptakan manusia melalui orang tua, yaitu ayah dan ibu. Oleh karena itu, orang yang beriman, yang percaya pada Tuhan, wajib menghormati orang tua. Karena orang tua itulah yang menjadi perantara kita sampai lahir di dunia ini dan mengasuh kita sampai betul-betul kita bisa hidup sendiri sebagai orang dewasa.

Begitu juga sikap kita terhadap guru. Guru menjadi perantara kita sehingga kita mengetahui sesuatu, dari tidak bisa membaca sampai bisa membaca, dari tidak bisa menghitung sampai bisa menghitung. Begitu juga halnya sampai kita bisa menulis.

Oleh karena itu, kita ujudkan takwa kepada Tuhan itu berdasarkan iman, antara lain dengan menghormati orang tua dan guru kita.

Namun, ternyata saya tidak patuh secara begitu saja. Sebab, kalau saya menurut kehendak beliau, berarti saya berbuat salah.

Dalam pada itu, terhadap beliau saya tetap bersikap sebagai anak kepada bapak. Tetap tenang dan sabar bila menghadapi beliau sedang marah. Saya selalu ingat falsafah “Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti”.

Tanggal 25 Februari 1966, Kogam mengadakan rapat berjam-jam lamanya. Keputusan yang dituangkan dalam tulisan yang rapi pada esok harinya, menetapkan antara lain, Presiden Soekarno sebagai Panglima Kogam membubarkan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Keputusan itu yang khususnya ditujukan kepada mahasiswa menyebutkan juga, melarang berkumpul lebih dari lima orang serta disangkutkan pula dengan pelaksanaan pengganyangan terhadap Malaysia.

Namun, setelah KAMI dibubarkan, tidak berarti bahwa gerakan para Mahasiswa itu berhenti. Perjuangan mereka beralih ke tangan Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia dan aksi-aksi gencar terhadap pelbagai departemen diteruskan. Demam demonstrasi dengan tuntutan Tritura meliputi ibukota. Tak ada hentinya. Pemuda, mahasiswa dan pelajar terus memenuhi jalan-jalan.

Sementara itu saya keluar masuk Istana dalam pakaian tempur, bertemu dan berbicara dengan Presiden Soekarno. Saya dengarkan pendirian beliau. Presiden kita terus pada pendiriannya. Sementara saya mengajukan pendirian saya dengan cara hormagt dan tetap menghargai pucuk pimpinan pemerintah yang lebih tua daripada saya.

Akhirnya beliau yakin bahwa saya tidak mudah untuk diperintah begitu saja, bahwa saya mempunyai pendirian.

Saya pernah mengatakan pada beliau, “Pak, alangkah baiknya kalau memang kita sudah salah kita kemudian mundur. Mundur tetapi untuk menang. Mundur selangkah, tetapi untuk maju lebih jauh lagi.”

Masalahnya amat sepele, yakni membubarkan PKI. Tetapi beliau mempunyai keyakinan tersendiri, dan beliau tidak mau membubarkan PKI, tidak bergeser sedikitpun. Apa sebabnya? Bung Karno berpendirian bahwa PKI tidak bisa dibubarkan. Kalau dibubarkan dan dilarang akan bergerak di bawah tanah dan akan lebih berbahaya.

Saya memberikan argumentasi lain. PKI bisa dilarang, tidak berbahaya, asal rakyat kita ajak. Kita harus memisahkan PKI dari rakyat. Dan ini pernah terjadi pada waktu menghadapi pemberongtakan PKI/Muso di Madiun tahun 1948. Bung Karno menanyakan pada rakyat, “Pilih Muso atau pilih Soekarno/Hatta”. Rakyat pilih Soekarno/Hatta dan pemberontakan PKI bisa diatasi karena rakyat ikut serta. Apalagi sekarang. Bung Karno bisa tanya pada rakyat, “Pilih PKI atau Pancasila”, pasti rakyat pilih Pancasila.

Pada kesempatan berdialog lainnya Bung Karno menegaskan “Har, saya ini sudah diakui sebagai pemimpin dunia, konsep Nasakom sudah saya jual kepada bangsa-bangsa di dunia ini. Sekarang saya harus membubarkan PKI, dimana, Har, saya harus menyembunyikan muka saya”.

Dengan tenang dan hormat tetapi sungguh-sungguh saya menjawab. “Pak, kalau masalahnya untuk konsumsi dunia luar, gampang, jadikan saya bumper, saya yang akan membubarkan PKI, bukan Bapak, tetapi kedalam negeri Bapak harus ngegongi (menyetujui).” Beliau tetap pada pendiriannya, dan rupanya belum bisa menangkap sikap saya yang sebenarnya, hingga lahirlah pertanyaan yang sangat mengharukan “jane aku iki arep kok apakke.

Saya ingat minggu-minggu itu penuh dengan pertemuan dan pembicaraan hangat. Udara politik masih tetap panas dan meresahkan.

Tanggal 10 maret, pukul 02 dinihari, pimpinan mahasiswa saya undang ke Kostrad. Saya bicara dengan mereka. Pada kesempatan itu hadir dan bicara pula Subchan ZE.

Kerja berat terus menerus sampai larut malam seperti itu menyebabkan saya sakit tenggorokan sehingga saya tidak bisa hadir pada Sidang Kabinet di Istana tanggal 11 Maret pagi-pagi.

1Penuturan Presiden Soeharto, dikutip langsung dari buku “Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta, tahun 1982, hal 165-169.

Kelak

Tertatih, lalu terjatuh, kemudian terguling.

Bangkit lagi. Lalu melawan sakit. Dan berjuang kembali.
Kembali terjatuh, tersungkur, lalu terguling berulang.
Tapi tegakkan badan. Mulai bangkit tertatih.
Begitu seterusnya hidupku. Hidupmu juga.

Tak ada yang mudah untuk berjuang. Bila hidup mudah, maka buat apa ada pejuang? 
Tak ada yang bisa diperoleh tanpa jatuh dan terguling! Bila ada yang berdiam dan mendapat sukses, itu takdir namanya.
Tapi manusia tidak hanya menunggu takdir. 
Kejar dan perjuangkan!

Kelak, suatu hari, suatu pagi yang penuh kesejukan dan rintikan air, kau akan tau.
Perjuangan tidak pernah sia-sia.
Sekecil apapun! 
Kelak, suatu waktu, di kemilau senja yang terpancar indah, kau pula akan rasakan. 
Tak ada keindahan yang diperoleh dari tangan kosong! 
Tak ada kecantikan yang didapat dari berdiam diri! Kita harus bergerak.

Kelak. Suatu saat. Suatu waktu. Kelak. Akan ada masa dimana kau akan berkata “aku pernah berjuang dan mencapai titik jenuh; tapi aku tau INDAH ITU TIDAK DIDAPATKAN DENGAN MUDAH!!”

DANNY GAIDA TERA ELGAR,

9 Februari 2017.

Janjiku takkan kulanggar 

​Sebetulnya aku tidak ingin bercerita banyak tentang masa laluku. Maklum, masa laluku sangat kelam. Namun, setelah kupikir, siapa tahu perjalanan hidupku ini bisa menjadi pelajaran bagi orang lain. 

Dulu Aku seorang pemabuk yang larut dalam dunia hayal saja. Sampai akhirnya aku mengenal yang namanya INEX,Mungkin tak sedikit yang akrab dengan sebutan barang itu, Butiran pil yang membuat jutaan otak penjuru dunia mengenali keampuhannya bila reaksi mulai mencemari tubuh semua pecandu walau hanya pada alam bawah sadar.Tentu saja keluargaku bahkan mungkin teman2 terdekatku tak ada yang tahu, karena sengaja kusembunyikan. Mungkin mereka baru tahu sekarang, setelah membaca ini.

Namun, aku malah jadi lupa diri. Ketenaran tidak penting buatku. Yang penting menikmati hidup. Dunia malam terus kugeluti. Dulu Kalau ke rumah teman, aku tak lupa mengonsumsi obat. Bahkan, untuk urusan yang satu ini, aku bisa dibilang tamak. Akhirnya, aku jadi sangat mabuk. Pandanganku pun jadi kabur. Mau melihat HP di tangan saja, aku harus mendekatkannya ke wajahku, sambil menggoyang-goyangkan kepala dan membelalakkan mata supaya bisa melihat dengan lebih jelas. Kesombonganku juga lebih besar dari sebelumnya karena merasa punya uang banyak. Tak seorang pun kudengarkan lagi nasihatnya. Ketika temanku menasihati, aku mencibir. Siapa dia sampai aku harus mendengarkan ucapannya? Ucapan orang tua saja tak kugubris. Aku tenggelam dalam duniaku sendiri dan jadi pecandu Obat. Aku makin jauh dari Tuhan. Padahal, di kampungku ada masjid. Ketika orang berpuasa di bulan Ramadan pun, aku tetap melakukan kemaksiatan. Lalu, saat Lebaran tiba dan orang-orang sibuk bertakbir, aku malah sibuk mencari celah waktu dan tempat di mana aku bisa berbuat maksiat. Semua ilmu agama yang pernah kupelajari dan kemampuan membaca Al-Qur’an seperti hilang. Akal sehatku seperti hilang. Kecanduanku pada obat juga makin parah.

Tak perlu aku menceritakan detail tentang kejahatan yang kulakukan. Yang jelas, suatu hari aku merasa menderita karena ketakutan setelah melakukan sebuah perbuatan. Aku benar-benar ketakutan! Aku jadi gampang curiga pada siapa saja. Aku selalu berburuk sangka pada apa pun. Kesombonganku pada uang lenyap digantikan ketakutan. Yang kulakukan setiap hari adalah berdiam diri di kamar, dengan selalu berpikiran bahwa setiap orang yang datang akan membunuhku. Aku sibuk mengintip dari bawah pintu, siapa tahu ada orang datang untuk membunuhku. Telingaku jadi sangat sensitif. Aku sering merasa mendengar ada orang sedang berjalan di atap rumah ingin membunuhku. Aku tersiksa selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Orang-orang mengatakan, aku sudah gila.Sungguh, aku merasa sangat ketakutan ketika suatu hari bermimpi melihat jasadku sendiri dalam kain kafan. Antara sadar dan tidak, aku terpana sambil bertanya pada diri sendiri. Benarkah itu jasadku? Aku juga disiksa habis-habisan. Begitulah, setiap tidur aku selalu bermimpi kejadian yang menyeramkan. Dalam tidur, yang kudapat hanya penderitaan. Aku jadi takut tidur. Aku takut mimpi-mimpi itu datang lagi. Aku juga jadi takut mati. Padahal dulu aku sempat menantang maut,Meminta mati datang karena aku tak sanggup lagi bertahan saat ada masalah.Sebetulnya sepele, kan? Tapi masalah itu kuberat-beratkan sendiri. Rasa takut mati itulah yang akhirnya membuatku sadar bahwa ada yang tidak meninggalkanku dalam keadaan seperti ini, yaitu Allah.Aku teringat kembali pada-Nya dan menyesali semua perbuatanku selama ini. Pelan-pelan, keadaanku membaik. Kesadaran-kesadaran itu datang kembali. Pelan-pelan, aku kembali dekat pada agama. 

Aku yang dulu angkuh, sekarang tak berdaya. 

aku sekarang benci sekali dengan minuman keras, rasanya aku ingin membombardir pabrik pembuatan minuman keras dan menghancurkan usaha mereka dalam menjual minuman haram tersebut. Sampai sekarang, aku masih terus berproses berusaha menjadi orang yang lebih baik. Setelah aku berhenti, sepi menghantui dan kadang frustasi menggoda untuk kembali kemasa dimana narkoba merajai diri..

Tapi aku selalu teringat akan janji ku pada tuhan dan pada diriku sendiri.

belajar dari kisah seorang kesatria jepang yang setia pada janji sucinya

dan aku akan setia terhadap janji suci ku itu. dari hati, niat ku bulat untuk tidak melanggar janji itu dan lebih baik mati jika melanggar nya.

akan ku jalani hari ku penuh semangat dan wujudkan impian yang dulu sempat terhenti. JANJIKU TAK AKAN KULANGGAR !!!!!!!!! 


Pesanku, Cintailah Tuhan dan orangtuamu, serta pilihlah teman yang baik.

“Ketika meninggalkan hal yang kamu anggap buruk, hal yang dianggap banyak orang buruk, terus kamu berpindah ke hal yang kamu anggap baik, hal yang dianggap banyak orang baik, Tuhan tidak serta-merta memberi jalan yang mudah. Tuhan akan menguji kesungguhan kamu. Ada dalam suatu ketika, jadi orang baik itu susah.” 

My Way

Saat ku pahami bahwa akhir kehidupanku telah hampir tiba Dan aku menghadapi babak akhir dalam kehidupanku. Sahabat, ingin kukatakan kepadamu sesuatu yang aku yakini selama ini dalam hidupku, untuk setiap jalan yang telah kulalui dan masih banyak lagi, yang semuanya kulakukan dengan caraku sendiri. Aku tahu ada beberapa beberapa penyesalan, tapi terlalu sedikit untuk disebutkan. Aku telah lakukan apa yang harus kulakukan dan menyelesaikannya dengan cara yang terbaik. Aku telah merencanakan setiap bagian dari langkah-langkahku dengan matang dan penuh perhitungan. Dan begitu banyak hal lain yang semuanya kulakukan dengan caraku sendiri. ya, memang ada saatnya aku yakin kamu tahu, Ada sebuah masa di mana kamu tahu bahwa aku menginginkan sesuatu yang melebihi kemampuanku. Dan terus menjalaninya walaupun kadangkala muncul keraguan. Namun aku selalu habiskan keraguan itu dan aku hadapi semua itu dan aku berdiri tegak dan terus kuat menjalaninya dengan caraku sendiri.

Aku sudah menjalani segala suka dan duka dalam perjalananku. Aku pernah merasa kehilangan dan masih banyak lagi. Dan saat ini, saat semua beban ini telah mulai berkurang. Aku bisa memaknai bahwa semuanya yang telah kulalui ternyata begitu indah dan menyenangkan. Dan semuanya telah kulalui sebelumnya dengan cara yang aku pilih, caraku sendiri.


Noted : Apalah arti seorang manusia jika tidak menjadi dirinya sendiri. Mereka memilih untuk menjalani sesuatu yang sebenarnya tidak dinikmatinya. Dan memang selalu ada konsekuensi saat kita memilih jalan dengan cara yang kita pilih berdasarkan sesuatu yang memang kita sukai.